Liputan24.net – Jakarta. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia akan berlangsung lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir (1991–2020).

Dari total 699 Zona Musim (ZOM), sebanyak 451 zona musim atau sekitar 64,5 persen diprakirakan mengalami curah hujan di bawah normal selama periode kemarau. Sementara 245 zona musim atau sekitar 35 persen diprediksi berada pada kategori normal, dan hanya sekitar 3 persen wilayah yang berpotensi mengalami kemarau lebih basah dari biasanya.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan kondisi kemarau tahun ini berbeda dibandingkan 2025 yang dikenal sebagai kemarau basah.

“Untuk tahun 2026 ini kondisinya lebih kering dari biasanya, sehingga perlu diantisipasi karena tidak seperti tahun 2025,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/3).

BMKG juga mengingatkan bahwa kemarau yang lebih kering berpotensi meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang selama ini rawan.

Karena itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk menyiapkan langkah antisipasi, seperti pengelolaan sumber daya air, penyesuaian pola tanam, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana selama musim kemarau 2026. (Liputan24.net/BMKG/Fhm)