Liputan24.Net, Banjarbaru — PT Air Minum (PTAM) Intan Banjar menjamin pasokan air bersih bagi pelanggan di Wilayah Kota Banjarbaru dan Martapura tetap aman selama musim kemarau. Meskipun konsumsi air mengalami lonjakan pada jam-jam tertentu, kapasitas produksi dan distribusi dipastikan mencukupi kebutuhan masyarakat.

Kepala Bagian Transmisi dan Distribusi PTAM Intan Banjar, Bayu Cipta Setia Bisma, menjelaskan bahwa lonjakan pemakaian pada pagi dan sore hari memicu penurunan tekanan air di kawasan ujung jaringan. Untuk mengatasinya, tim teknis disiagakan melakukan rekayasa dan pengaturan jaringan secara berkala.

“Pemakaian air pelanggan cukup tinggi saat kemarau, sehingga aliran di wilayah ujung jaringan tidak maksimal pada jam puncak. Tim kami di Banjarbaru dan Martapura terus siaga melakukan pengaturan jaringan agar distribusi tetap terbagi merata,” ujar Bayu, Rabu (15/7/2026).

Saat ini, PTAM Intan Banjar mendistribusikan air bersih dengan kapasitas sekitar 450 liter per detik. Beberapa wilayah di titik ujung jaringan—seperti kawasan Dalam Pagar di Martapura dan sebagian area Kecamatan Cempaka di Banjarbaru—diimbau rutin menampung air saat aliran dalam kondisi normal.

Sebagai langkah antisipasi krisis air, PTAM Intan Banjar mengerahkan empat unit armada tangki serta berkolaborasi dengan BPBD yang menyiapkan dua unit mobil tangki untuk mendistribusikan bantuan air bersih langsung ke pemukiman warga.

Di sisi lain, keberlangsungan pasokan air baku juga dipastikan tidak mengalami hambatan. Kepala Bagian Produksi PTAM Intan Banjar, Akhmad Yani, menegaskan operasional Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pinus masih berjalan normal.

Air baku yang dipasok dari SPAM Banjarbakula diambil langsung dari hulu bendungan, sehingga terbebas dari dampak penurunan debit sungai maupun fenomena kematian ikan yang sempat terjadi di kawasan Karang Intan.

“Suplai air baku dari Banjarbakula masih sangat aman. Air yang kami terima berasal dari hulu bendungan, sehingga tidak terdampak kondisi di hilir,” tegas Akhmad Yani.

Ia menambahkan, tingkat kekeruhan air baku berada di angka ideal sekitar 20 NTU dan memenuhi standar pengolahan. Potensi gangguan operasional pun minim dan umumnya hanya terjadi secara sementara saat proses perpindahan daya listrik PLN ke generator cadangan (genset).