Liputan24.Net – Kabupaten Banjar. Perbaikan kebocoran pipa air baku berdiameter 1.200 milimeter milik BPAM Banjarbakula di Desa Sungai Landas, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, kembali terkendala. Kali ini, pekerjaan terhambat akibat kerusakan alat berat di Lokasi, Senin (12/10/2026).

Kendala tersebut berpotensi memperpanjang proses perbaikan pipa yang bocor sejak Jumat (9/10/2026), di tengah kondisi kemarau yang turut menyulitkan masyarakat memperoleh air bersih.

Perbaikan diperkirakan memerlukan waktu lima hingga 10 hari, bergantung pada kondisi pekerjaan di lapangan. Jika alat berat tidak segera berfungsi normal, penggantian alat akan dilakukan agar pekerjaan dapat dilanjutkan.

Pihak BPAM Banjarbakula juga membuka kemungkinan mengalirkan air kembali sebelum perbaikan permanen selesai, apabila sambungan pipa memungkinkan untuk dioperasikan.

“Namun, meskipun demikian, jika pipa tersebut bisa tersambung meskipun belum permanen, kami bisa memfungsionalkan separuh dulu,” ungkap pihak BPAM.

Kebocoran di kawasan Desa Sungai Landas bukan kejadian baru. Kepala BPAM Banjarbakula sebelumnya menyebut insiden serupa telah terjadi hingga lima kali.

Ia menjelaskan, kebocoran terbaru dipicu getaran tanah yang menyebabkan sambungan pipa terlepas.

“Kebocoran ini terjadi lantaran adanya getaran pada tanah, sehingga mengakibatkan sambungan pipa tersebut lepas,” ungkapnya.

Menurutnya, material pipa yang keras membuat sambungan rentan mengalami gangguan ketika terjadi pergerakan tanah.

“Kebocoran pada pipa itu memang sudah beberapa kali terjadi. Hal itu dikarenakan pipa yang ada jenisnya keras sehingga sedikit saja ada pergerakan dari tanah bisa mengalami kebocoran pada sambungan,” bebernya.

Frekuensi kebocoran tersebut menjadi perhatian terhadap kondisi sambungan dan faktor lingkungan di sekitar jalur pipa. Evaluasi teknis diperlukan untuk memastikan penanganan tidak hanya memulihkan aliran air, tetapi juga mengurangi risiko kerusakan berulang.

Selain mengejar penyelesaian perbaikan, BPAM Banjarbakula perlu memastikan langkah teknis pencegahan kebocoran, khususnya pada bagian sambungan yang disebut rentan akibat pergerakan tanah.

Rencana pengoperasian kembali pipa sebelum perbaikan permanen juga perlu didasarkan pada pemeriksaan teknis guna memastikan keamanan dan keandalan sistem.

Masyarakat tidak hanya membutuhkan kepastian waktu pemulihan aliran air, tetapi juga upaya nyata agar gangguan serupa tidak terus berulang.

Dengan kebocoran yang telah terjadi berulang kali dan pekerjaan yang kembali menghadapi kendala, keandalan infrastruktur air baku menjadi hal penting yang perlu mendapat evaluasi menyeluruh. (Liputan24.net/Fhm)