Liputan 24 net – Kalsel .Perbaikan kebocoran pipa air baku berdiameter 1.200 milimeter milik BPAM Banjarbakula di Desa Sungai Landas, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, kembali menghadapi kendala. Kali ini, proses perbaikan terhambat akibat kerusakan alat berat yang digunakan di lokasi pekerjaan.

Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang waktu perbaikan pipa yang mengalami kebocoran sejak Jumat, 9 Oktober 2026. Padahal, gangguan pada jaringan air baku ini terjadi di tengah keluhan masyarakat terhadap kesulitan mendapatkan air bersih akibat kemarau.

Pihak BPAM Banjarbakula memperkirakan perbaikan pada bagian pipa yang bocor membutuhkan waktu sekitar lima hingga sepuluh hari. Namun, estimasi tersebut bergantung pada kondisi pekerjaan di lapangan, termasuk kesiapan alat berat yang digunakan.

Pihak terkait menyatakan, apabila alat berat tidak kembali berfungsi normal dalam beberapa jam, penggantian alat akan dilakukan agar proses perbaikan dapat dilanjutkan.

Meski demikian, BPAM membuka kemungkinan mengalirkan air kembali sebelum perbaikan dilakukan secara permanen, apabila sambungan pipa sudah memungkinkan untuk dioperasikan.

“Namun, meskipun demikian, jika pipa tersebut bisa tersambung meskipun belum permanen, kami bisa memfungsionalkan separuh dulu,” ungkap pihak BPAM.

Kendala teknis tersebut menambah persoalan dalam penanganan kebocoran pipa air baku yang merupakan bagian penting dari sistem penyediaan air bersih di Kalimantan Selatan.

Sudah Lima Kali Bocor

Persoalan ini semakin menjadi perhatian karena kebocoran pada pipa di kawasan Desa Sungai Landas tersebut bukan kali pertama terjadi. Berdasarkan keterangan Kepala BPAM Banjarbakula, kejadian serupa telah berulang hingga lima kali.

Kepala BPAM Banjarbakula sebelumnya menjelaskan, kebocoran terbaru terjadi akibat getaran tanah yang menyebabkan sambungan pipa terlepas.

“Kebocoran ini terjadi lantaran adanya getaran pada tanah, sehingga mengakibatkan sambungan pipa tersebut lepas,” ungkapnya saat ditemui di lokasi.

Ia juga mengakui bahwa karakteristik material pipa yang keras membuat sambungannya rentan mengalami gangguan ketika terjadi pergerakan tanah.

“Kebocoran pada pipa itu memang sudah beberapa kali terjadi. Hal itu dikarenakan pipa yang ada jenisnya keras sehingga sedikit saja ada pergerakan dari tanah bisa mengalami kebocoran pada sambungan,” bebernya.

Berulangnya kebocoran hingga lima kali memunculkan pertanyaan mengenai ketahanan sambungan pipa, kondisi tanah di lokasi, serta efektivitas langkah penanganan yang selama ini dilakukan.

Jika penyebab kebocoran berkaitan dengan karakteristik pipa dan pergerakan tanah, perbaikan yang hanya berfokus pada penyambungan kembali berisiko tidak menyelesaikan persoalan secara menyeluruh apabila faktor pemicunya tidak ditangani.

Perlu Evaluasi, Bukan Sekadar Perbaikan

Di tengah ketergantungan masyarakat terhadap pasokan air bersih, gangguan berulang pada infrastruktur air baku semestinya menjadi bahan evaluasi bagi BPAM Banjarbakula.

Selain memastikan perbaikan berjalan sesuai target, diperlukan penjelasan mengenai langkah teknis untuk mencegah kebocoran serupa kembali terjadi, terutama pada bagian sambungan yang disebut rentan akibat pergerakan tanah.

BPAM Banjarbakula juga perlu memastikan bahwa pengoperasian kembali pipa sebelum perbaikan permanen dilakukan berdasarkan pemeriksaan teknis dan memenuhi aspek keselamatan serta keandalan sistem.

Publik pada akhirnya tidak hanya membutuhkan kepastian kapan aliran air kembali normal, tetapi juga jaminan bahwa gangguan serupa tidak terus berulang.

Sebab, ketika infrastruktur air baku mengalami kebocoran hingga lima kali dan proses perbaikannya kembali terkendala, persoalannya tidak lagi sebatas kerusakan teknis. Kondisi tersebut juga menyangkut keandalan infrastruktur dan kualitas pelayanan air bersih kepada masyarakat.( fmi lipt 24net )