Liputan24.Net, Martapura — PT Air Minum (PTAM) Intan Banjar bersama Balai Pengelolaan Air Minum (BPAM) Banjarbakula bergerak cepat mengantisipasi dampak kebocoran pipa transmisi air baku di kawasan Sei Landas, Desa Mandikapau, Kabupaten Banjar.

Sebagai langkah mitigasi darurat, kedua instansi menggandeng Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III Banjarmasin untuk memanfaatkan jaringan Irigasi Riam Kanan sebagai sumber air baku alternatif guna menjaga kontinuitas layanan air bersih.

Humas PTAM Intan Banjar, Mahyuni, mengungkapkan bahwa proses pengolahan air baku alternatif tersebut telah mulai beroperasi sejak Sabtu (10/10/2026) sore sekitar pukul 17.00 WITA.

“Sejak pukul 17.00 WITA, kami bersama BPAM Banjarbakula sudah mulai mengolah air baku dari Irigasi Riam Kanan. Saat ini air hasil pengolahan sudah masuk ke reservoir dan selanjutnya akan disalurkan kepada pelanggan,” ujar Mahyuni.

Melalui sinergi lintas instansi ini, kapasitas produksi gabungan antara PTAM Intan Banjar dan BPAM Banjarbakula berhasil mencapai 300 liter per detik. Pasokan ini diprioritaskan untuk mengamankan kebutuhan air bersih bagi ribuan pelanggan di wilayah Banjarbaru dan Martapura.

Kendati air bersih mulai diolah dan masuk ke dalam penampungan (reservoir), Mahyuni mengingatkan bahwa proses distribusi ke pelanggan tidak bisa langsung normal seketika. Pemulihan jaringan memerlukan tahapan pengembalian tekanan air secara bertahap.

“Air sudah masuk ke reservoir, tetapi tekanan jaringan harus dipulihkan terlebih dahulu. Jadi, distribusi dilakukan bertahap dan tidak bisa langsung menjangkau seluruh pelanggan secara bersamaan, terutama di wilayah ujung atau elevasi tinggi,” jelasnya.

Mahyuni menegaskan bahwa pemanfaatan air dari jaringan irigasi memerlukan perizinan ketat dan koordinasi intensif dengan BWS Kalimantan III selaku instansi yang berwenang dalam pengelolaan sumber daya air. Manajemen PTAM Intan Banjar pun menyampaikan apresiasi tinggi atas dukungan responsif yang diberikan.

  • Penguatan Koordinasi: Belajar dari insiden kebocoran serupa pada periode sebelumnya (2024), manajemen memperkuat mitigasi risiko operasional agar penanganan gangguan eksternal dapat dilakukan lebih cepat.
  • Komitmen Pelayanan: Meskipun gangguan berasal dari infrastruktur pemasok air baku di luar jaringan distribusi utama PTAM Intan Banjar, prinsip pelayanan maksimal kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama.

“Prinsip kami, pelayanan kepada masyarakat harus tetap diupayakan semaksimal mungkin. Karena itu, koordinasi dengan BPAM Banjarbakula dan BWS Kalimantan III terus dilakukan agar dampak gangguan dapat ditekan dan distribusi air bersih bisa segera pulih sepenuhnya,” pungkas Mahyuni.